Latest Entries »

Kakak Cilik Punya Karya:

Greatest Stories: Blitz and The Mysterious Letter

 

Pengarang: Alya, Riska, Rifqi, Auwl, Iza, Mia, Tita, Safira, Amel, Afifa

Format: 14,5 x 21 cm

Jumlah halaman: x  + 154

ISBN: 978-602-8672-52-8

Harga: Rp26.000,-

Soft cover

Terbit: 17 Oktober 2012

Kode buku: XB-08

Niall, siswa kelas 2 SMP Global Bintang, terpilih menjadi Ketua Cinta Alam sekolahnya. Sebenarnya, Niall tidak terlalu menginginkan jabatan sebagai Ketua Cinta Alam, tapi dewan guru malah mencalonkannya sebagai salah satu kandidat ketua. Nahasnya, program kerja Niall mengantarkannya terpilih sebagai ketua Pecinta Alam di sekolahnya.

Tepat di hari pertama pidatonya sebagai ketua, ia menemukan sebuah surat misterius. Bersama teman-temannya, The Blitz, Niall berusaha memecahkan isi surat misterius itu. Gara-gara surat misterius itu juga, Niall sampai kuyup terguyur seember air. Padahal, ia harus pidato beberapa menit lagi.

Berhasilkah Niall memecahkan misteri di balik surat misterius itu? Siapakah penulis surat misterius itu? Berhasilkah Niall memberikan pidato pertamanya?

“Kumpulan cerita pendek yang inspiratif!”

Nadiah Husna, penulis CCPK My Scholarship to Australia

S^_P

Advertisements

Rajinlah Membaca, Giatlah Menulis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”

(Rumah Kaca, h. 352)”
― Pramoedya Ananta Toer

Kutipan Pramoedya Ananta Toer di atas ada benarnya. Sepandai apa pun seseorang, selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan menulis sebagai upaya atau cara menuangkan pikiran atau perasaan melalui tulisan. Dengan menulis, orang lain akan tahu pikiran dan perasaan kita melalui tulisan kita.

Tulisan yang kaya dan bermakna tentu saja ditulis oleh penulis yang juga kaya. Kaya akan pikiran, wawasan, dan pengetahuan.

Lalu, bagaimanakah kita atau seseorang bisa menulis dengan kaya dan bermakna?

Jawabannya adalah dengan membaca. Membaca merupakan aktivitas melihat serta memahami apa yang dituliskan. (KBBI, 2003) Dengan membaca, pengetahuan dan wawasan kita akan bertambah, bahkan kita bisa memiliki pengalaman yang nilainya melebihi usia kita.

Kok bisa?

Tentu saja bisa. Contohnya, ketika kita membaca buku yang ditulis oleh seseorang berdasarkan riset yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun. Dengan membaca, kita bisa menyerap pengalaman si penulis dalam hitungan jam.  Menarik bukan?

Membaca dan menulis merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Kemampuan menulis berbanding lurus dengan kemampuan membaca. Suatu wilayah yang memiliki budaya membaca yang baik tentu diikuti dengan budaya menulis individunya dengan baik.

Hubungan Membaca dan Menulis

Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, menulis adalah proses menyajikan kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Kita bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya.

Sangat sulit bagi seseorang untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya. Di luar apa yang pernah dia miliki sebelumnya. Seseorang harus memiliki sesuatu terlebih dahulu sebelum bisa memberikan kepada orang lain. Seseorang harus memiliki wawasan terlebih dahulu sebelum terampil dalam membaginya kepada orang lain.

Dengan demikian membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini kita kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Anda miliki sebelumnya. Kita harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar.

Manfaat Membaca Bagi Keterampilan Menulis

Membaca memberikan manfaat yang sangat besar dalam mengasah kemampuan seseorang untuk menulis. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
* Membaca memperluas wawasan
* Membaca membantu melihat sudut pandang yang berbeda
* Membaca membantu kita belajar teknik menulis yang dipakai oleh      orang yang lebih berpengalaman
* Membaca membuat ide kita melimpah
* Membaca menjadikan otak dan pikiran kita aktif
* Membaca merangsang terbentuknya informasi baru di sistem daya ingat yang siap dipanggil kapan saja
* Membaca memperkaya kosa kata, pilihan kalimat, dan cara penyajian yang bisa kita pakai dalam menulis
* Membaca membuat kita mampu menganalisa, menghubungkan informasi yang terserak, dan melihat benang merah dari sebuah persoalan
* Membaca membuat kita punya bahan yang banyak untuk menuliskannya kembali

Rajin Membaca, Aktif Menulis

Begitu banyak contoh di sekitar kita yang menunjukkan bagaimana orang yang gemar membaca cenderung memiliki keterampilan menulis yang baik.

Buya Hamka adalah orang yang rajin membaca. Beliau juga dikenal sebagai pembaca cepat. Maka tidak heran pula jika beliau bisa menghasilkan banyak karya.

Rhenald Kasali – tokoh pemasaran Indonesia – adalah orang yang aktif membaca. Dengan demikian sangat mudah buat beliau untuk terus menulis tren terbaru dan prediksi tentang peta pemasaran di masa yang akan datang.

Yodhia Antariksa, seorang blogger produktif yang banyak menulis artikel bernas seputar strategi manajemen, mampu berbuat demikian karena punya kebiasaan membaca buku setiap petang.

Selain nama-nama di atas, ada pula beberapa nama selebritas yang menjadi penulis setelah sebelumnya aktif menjadi blogger. Sebut saja Asmirandah, Melly Ricardo, dan Dewi ‘Dee’ Lestari.

Membangun Tradisi Membaca dan Menulis

Tradisi membaca dan menulis merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan sepasang kekasih. Untuk itu, mulailah sejak dini membangun tradisi membaca dan menulis.

Jika kita memiliki banyak waktu untuk menonton televisi, aktif bertukar status dan komentar di Facebook, atau berkicau di Twitter, mulailah menggunakan waktu-waktu tersebut untuk membaca buku-buku berkualitas dan menuangkan isinya dalam tulisan.

Kalaupun membaca buku berkualitas masih juga dirasa berat, mulai saja membaca dari buku-buku yang kita sukai. Komik misalnya. Setelah selesai membaca, jangan lupa tuliskan isinya di dalam tulisan, di blog pribadi misalnya.

Dengan begitu, kita mulai membiasakan diri untuk rajin membaca dan giat menulis. Semakin lama, kemampuan kita baik dalam membaca maupun menulis akan meningkat dengan sendirinya. Practice makes perfect. 😉

Jadi, tunggu apa lagi? Segeralah membaca dan mulailah menulis.

“Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.”
― Pramoedya Ananta Toer

“Menulis adalah sebuah keberanian …” 
― Pramoedya Ananta Toer

“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”
― Pramoedya Ananta Toer

sumber:
http://www.muhammadnoer.com/2011/11/gemar-membaca-terampil-menulis/ — dengan perubahan

S^_P

IT’S REAL, MAN!

 

 

Dulu, Abdel bercita-cita menjadi pilot. Menurut imajinasinya, menjadi pilot itu keren karena berseragam dan bisa terbang naik pesawat. Cita-citanya kandas karena, setelah SMA, Abdel Achrian sadar bahwa dirinya enggak kuat lari. Padahal, untuk jadi pilot ada tes larinya.

Dengan berbekal uang logam seratus rupiah, Mongol berangkat ke Jakarta. Tujuannya saat itu cuma satu: belajar teologia. Impiannya kandas. Ia terpaksa hidup luntang-lantung karena pihak sponsor studinya pergi begitu saja.

Abdel yang taat beragama, ternyata tidak cukup kuat menahan goda narkoba. Sementara Mongol, kelahiran Manado yang enggak punya tampang orang Manado, selalu dihantui penilaian orang lain tentang muka copetnya.

Lalu, bagaimana lika-liku perjalanan hidup Abdel Achrian dan Mongol selanjutnya? Bagaimana pula kisah perjuangan mereka mencapai kesuksesan di panggung Stand Up Comedy Indonesia?

Cinta, keluarga, hidup, dan tragedi dikemas kocak dalam tulisan-tulisan Abdel dan Mongol. Tentu saja, tanpa meninggalkan identitas smart comedy keduanya.

“Saya selalu percaya bahwa tragedi ada di kehidupan siapa pun, termasuk komedian. Di buku ini, Abdel & Mongol secara apik menceritakan tragedi mereka dengan gaya komedinya masing-masing. It’s a must read!
Acho, Comic Stand up Comedy

“Mau tahu rasanya bagaimana jadi orang lucu seperti Abdel dan Mongol yang bisa memanfaatkan bakat melucunya hingga menghasilkan uang? Baca buku ini!”
@solehsolihun, Comic Stand up Comedy

“Abdel & Mongol punya banyak kesamaan. Keduanya sama-sama lucu kebangetan, sering nongol di TV, dan punya basis penggemar usia 40 tahun ke atas. Yang pasti, keduanya sama-sama punya perjalanan hidup yang lucu & mengharukan. Buku ini lucu sekaligus sendu!”
@ernestprakasa, stand-up comedian.

@abdelachrian

@Mongol_Stres

@pnrbitedelweiss

@StandUpIndo

@StandUpKompasTV

@standupmetrotv

#EDELWEISSKIDS

Karya adik-adik dibagi ke dalam 3 kelompok sesuai usia, yaitu:

1. CCPK (CIlik-Cilik Punya Karya) untuk usia 7-12 tahun

2. KCPK (Kakak CIlik Punya Karya) untuk usia di atas 12 tahun-15 tahun

#EDELWEISS YOUNG ADULT-ADULT

tema bebas, usia penulis di atas 15 tahun.

Syaratnya apa ya?

1. diketik di kertas A4 dengan font times new roman 12 pt berspasi 1,5

2. tebal naskah sesuai kelompok usia:

CCPK, KCPK, YA minimal 50 halaman

ADULT minimal 75 halaman

3. Tema bebas

4. Karya sendiri atau bersama teman (maksimal 3 orang)

5. Novel diprioritaskan

6. Naskah asli dan belum pernah dikirimkan dan diterbitkan di penerbit atau dimuat di media manapun. DAN tidak sedang dalam proses di penerbit atau media manapun.

Cara kirimnya bagaimana?

Karya bisa dikirimkan melalui pos dan email dengan menyertakan biodata singkat dalam bentuk narasi dan sinopsis naskah.

1. Via pos ke

Penerbit Edelweiss

Ki town House Blok H

jl. raya Limo, Depok 16515

telp. 0217531711

TULISKAN NASKAH CCPK, KCPK, RPK, YA, atau ADULT di POJOK KIRI amplop

2. via email ke

edelweiss.publisher@gmail.com dan cc: naskah.edelweiss@gmail.com

TULISKAN di subjek email:

NASKAH_CCPK/KCPK_JUDUL_nama penulis

Untuk YA/RPK/ADULT:

NASKAH NOVEL_JUDUL_GENRE_NAMA PENULIS

 

Untuk pengiriman email, naskah, biodata narasi, dan sinopsis WAJIB dilampirkan sebagai attachment… 🙂

Pemberitahuan naskah yang layak terbit 2 minggu sampai 2 bulan.

Ayo wujudkan impianmu menjadi penulis edelweiss!

redaksi edelweiss

Membaca novel yang berbalut sejarah jarang saya lakukan karena beberapa kali melakukannya membuat saya kecewa berat. Sejarah-sejarah yang muncul seakan-akan hanya tempelan. Para tokohnya lebih sibuk dengan diri sendiri dan tidak sesuai dengan pergulatan sejarah di sekitarnya. Namun, membaca fakta-fakta unik mengenai Tragedi Gadis Parisj van Java membuat saya tergoda untuk mencicipi novel sejarah lagi. Setelah membaca novel sejarah yang hampir semuanya membahas sisi drama percintaan yang kental, saya jadi penasaran apa yang saya temukan dari novel keluaran Penerbit Edelweiss ini, ya? 🙂

Detail Buku:

Pengarang: Ganu van Dort

Format: 13 x 20,5 cm

ISBN: 978-602-8672-14-6

Harga Rp48.000,-

Terbit: 16 Januari 2012

Sinopsis Belakang

Bandoeng, de mooiste stad van Java, “Bandoeng kota terindah di Pulau Jawa”. Tapi tidak untuk Laura Hessel, Bandoeng bagai neraka. Kekerasan dan kepiluan selalu menguntit gadis Belanda yang setelah lulus menjadi dokter, dan memeluk Islam, mengubah namanya menjadi Fatimah. Ia menikah dengan Djadja Soeriadiredja, pria pribumi, wartawan surat kabar De Vrije Pers, yang akhirnya dibuang ke Suriname karena kritikannya yang pedas pada Gubernemen Hindia Belanda. “Oh suamiku. Rupanya kita tak habis-habisnya diintai bahaya maut,” ujar Fatimah, sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya. Tangannya masih memegang pistol.

Sebuah Douglas DC-3, kembali membawa Dokter Fatimah menuju Nederland. Dari jendela pesawat ia memandang pilu ke bawah. Samar-samar tampak Parijs van Java, dipayungi awan-awan putih bergerombol. Tanpa sadar ia berucap, “Dag Bandoeng, ik herineer je altijd… Selamat Tinggal Bandoeng, aku sangat mengenangmu…”

Kedamaian seolah tak pernah singgah pada Dokter Fatimah, sejak periode Hindia Belanda, zaman keganasan tentara Jepang, sampai masa peperangan merebut kemerdekaan Indonesia. Semua itu gara-gara kode formula MAPKK. Formula rahasia itu, ciptaan ayah Fatimah, Profesor Jansens Kloosmayer. Unit 731, bagian dari misi rahasia tentara Jepang dan intelijen militer dari negeri fasis lainnya, pada masa Perang Dunia II, mengincar formula itu. Dan seorang agen Belanda pun, berupaya mati-matian merebut formula itu, untuk menjualnya pada spion asing. Dan terjadilah tragedi demi tragedi ….

Sejarah Indonesia di Kota Bandoeng

Cerita dibuka di Vogel Pool, sebuah bar di Bragaweg (sekarang Jalan Braga), Bandoeng, Oktober 1937. Dengan deskripsi keadaan sekitar yang cukup mendetail, termasuk bahwa Vogel Pool terletak di belakang Firma E. W. Van Loo atau penyanyi yang cukup terkenal saat itu, Catarina van der Meijden, kita dibawa mengikuti percakapan seorang Belanda misterius yang meminta seorang pribumi untuk membunuh Profesor Jansens beserta istrinya, kemudian membawa sang putri semata wayang mereka, Laura Hessels, ke hadapan orang Belanda tersebut. Wow.

Kehidupan Laura Hessels yang tenang berubah total saat kedua orangtua kesayangannya menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh Madhapi secara brutal. Laura terpaksa tinggal di rumah keluarga pamannya dan dibayang-bayangi ketakutan akan dihabisi Madhapi setiap saat. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Laura mengejar cita-citanya menjadi dokter. Terutama karena cinta kasih sang bibi dan sepupu-sepupunya terus melingkupi Laura sehingga gadis itu dapat menatap ke depan.

Sejak cinta pertamanya dengan Jantje Ijzerman kandas dan meninggalkan trauma yang mendalam, Laura mulai menjalin hubungan dengan Djaja Soeriadiredja. Awalnya Djaja yang jago pencak ini hanya diminta menjadi pengawal yang menjaga Laura dari intaian Madhapi, tapi seiring berjalannya waktu, tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Terutama setelah Laura nyaris tenggelam di Sungai Tjikapoendoeng.

Walau Bandoeng dianggap sebagai salah satu tempat favorit yang disukai oleh orang Belanda, segalanya berubah setelah kedatangan tentara Jepang. Djaja yang telah menikahi Laura begitu semangat mengorbarkan rasa kebangsaan rakyat Indonesia untuk melawan penjajah melalui tulisan-tulisannya yang kontroversi. Hal ini membuatnya ditangkap dan dibuang ke Suriname… Tentu saja hal ini membuat Laura yang telah menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Fatimah sedih. Ditambah lagi, kapal Van Imhoff yang membawa Djaja, Douwes Dekker, dan orang-orang yang dianggap membahayakan Belanda ternyata ditembak sampai tenggelam oleh tentara Jepang! Djaja dinyatakan meninggal…

Lika-liku perjalanan Laura tidak berhenti di sini. Dia harus terus berjuang bertahan hidup di bawah tekanan tentara Jepang yang kejam. Juga berbagai tragedi yang seakan menjadi suratan takdir Laura. Apakah Laura harus menutup kisah hidupnya di Bandoeng dengan akhir yang memilukan? Atau ada secercah harap tertinggal di sana?

In My Opinion

Membaca novel ini membawa saya kembali ke perjalanan sejarah Indonesia. Ganu van Dort berhasil meramu fakta-fakta dengan fiksi menjadi sebuah cerita yang saling berpadu. Seting sejarah dalam novel ini bukanlah tempelan, melainkan para tokoh-tokoh yang muncul memang terbawa arus sejarah tanpa bisa melawannya.

Mengikuti kisah hidup Laura menyusuri kota Bandoeng, saya seakan terbawa juga untuk merunut sejarah Indonesia yang mungkin tidak dapat saya temui di buku pelajaran sejarah mana pun. Hampir semua tempat yang muncul adalah nyata atau pernah ada. Saya sedikit banyak bisa membayangkan bagaimana situasi kota Bandoen tempo dulu dan dapat mengerti bagaimana para Welanda begitu menyukai tinggal di sana.

Saya baru menyadari kalau sebagian orang-orang Belanda yang kita cap sebagai penjajah itu ternyata begitu mencintai Indonesia. Mereka suka tinggal di sini, juga bergaul dengan rakyat pribumi. Cinta mereka terhadap Indonesia sama seperti cinta mereka terhadap Belanda. Mereka juga ikut menangis saat Indonesia jatuh ke tangan pemerintah Jepang. Mereka juga ikut merasakan bagaimana kejamnya tentara Jepang yang memasukkan para tawanan perang ke kamp-kamp.

Kehidupan manusia tidak selalu mulus atau berakhir bahagia. Begitu juga yang terjadi pada Laura. Namun, bukan berarti hidupnya hanya dipenuhi oleh tragedi. Laura menunjukkan ketegarannya melewati cobaan demi cobaan. Ada kalanya dia berputus asa dan nyaris menyerah, namun ia kembali bangkit dan memilih untuk tidak berhenti berjuang.

Sedikit Masukan

Tidak ada gading yang tak retak. Istilah ini cocok untuk menunjukkan bahwa manusia tidak pernah lepas dari khilaf. Yah, mungkin saya sedikit berlebihan menggunakan kata-kata ini ^^ Overall, saya menemukan beberapa kali salah ketik yang cukup mengganggu walaupun mungkin tidak terlalu fatal. Kesalahan ketik ini berlaku pada penggunaan huruf kapital, tanda baca, atau penggunaan istilah yang tidak konsisten.

Saya juga merasa bahwa misteri yang melingkupi Laura, pelaku misterius yang begitu mengincarnya, kurang digarap. Cerita akan jauh lebih solid apabila sepanjang buku Laura tidak tinggal diam, tapi juga menyelidiki balik siapakah orang yang menginginkan kematian orangtuanya. Juga misteri di balik MAPKK. Saya juga bertanya-tanya, apakah MAPKK ini masih relevan untuk didapatkan si pelaku setelah Indonesia merdeka? Dengan asumsi perang sudah selesai.

Beberapa bagian sejarah juga bisa dipangkas, agar tidak terkesan informasi tersebut dikopi dan di-paste begitu saja ke dalam cerita. Bagian ini membuat cerita menjadi membosankan dan andaikan saya skip juga tidak akan mengganggu cerita secara keseluruhan.

Saya sangat berterima kasih kepada Penerbit Edelweiss yang telah menerbitkan novel sejarah yang menarik ini. Saya belajar banyak hal dari novel ini dan saya senang sekali mengetahui bahwa Tragedi Gadis Parisj van Java bukan sekedar cerita roman picisan.

Seperti juga yang dirasakan Laura, sekeping hati saya tertinggal di kota Bandoeng ….

Naomi Leon (@naomi_leon)

pemenang Lomba Resensi buku Tragedi Gadis Parijs van Java

1-31 Agustus 2012

%d bloggers like this: