Pengarang: Nurul Pertiwi
Format : 14,5 x 21 cm
ISBN : 978-602-8672-32-0
Jumlah halaman: xii + 188
Harga: Rp 35.000,-
Soft cover
Terbit: September 2011

Tak mau kalah dengan adik-adik berusia 9-12 tahun, kakak-kakak usia 13 hingga 15 tahun berkarya menerbitkan buku di bawah Kakak Cilik Punya Karya (KCPK). Nurul Pertiwi menjadi pembukanya dengan karyanya yang berjudul The Blue Candle.

Novel dengan sepuluh bab ini padat bercerita ttg Hana dan Odi. Hana lahir dari serorang ibu yang kemudian meninggal. Bayi Hana dirawat oleh seorang pria tegap dan penyayang anak-anak bernama Luco. Hana memanggilnya Paman Luco. Tak lama setelah itu, Paman Luco menemukan bayi laki-laki yang dihanyutkan di perahu. Nama bayi laki-laki itu adalah Odi. Paman Luco merawat Hana dan Odi dengan gembira. Satu petunjuk yang disertakan di perahu bersama bayi Odi adalah lilin biru bertuliskan LOCIC.

Hari berganti bulan. Bulan pun berganti tahun. Setelah kedua bocah ini beranjak sedikit besar, Paman Luco mengungkap sebuah rahasia tentang kehidupan Paman Luco dan penduduk Cosia. Sebenarnya, kehidupan mereka saat ini yang sangat aman dan damai hanyalah sementara. Jenderal Guthero, pemimpin Cosia, berjuang mati-matian untuk bertahan dan melawan Ruy, pemimpin Hubbe Timur yang menginginkan wilayah Cosia menjadi daerahnya dan menawan seluruh rakyat Cosia.

Ruy sudah berulang kali menyerang Cosia, tetapi berkat perlawanan Jenderal Guthero, semua penyerangan itu berhasil dipatahkan. Hingga suatu ketika, Jenderal Guthero tewas dalam sebuah penyerangan. Dan, itulah saatnya bagi Paman Luco untuk menyelamatkan Hana dan Odi keluar dari Cosia.

“Bawa lilin ini dan jangan tinggalkan perahu. Sungai ini akan mengantarmu pulang,” pesan Paman Luco pada Hana dan Odi.

Sedih, karena di dalam ceritanya Tiwi bisa menuliskannya dengan baik sehingga pembaca bisa benar-benar ikut merasakan kepanikan yang dialami Paman Luco dan kebingungan yang dialami Hana dan Odi.

Setelah itu, cerita mengalir dengan lancar membawa Hana dan Odi bertualang. Setelah menginap di perahu selama tiga hari dan memakan buah-buahan di sekitar sungai, Hana dan Odi terpaksa kehilangan perahu mereka karena menyelamatkan anak monyet yang tercebur sungai.

Dari bantaran sungai itu, Hana dan Odi berjalan terus dan terus hingga menemukan sebuah perkampungan. Hana dan Odi harus berjuang bertahan hidup (baca: harus makan) tanpa uang sepeser pun. Mereka berdua hanya punya bekal sebuah lilin biru bertulis ‘LOCIC’.

Ada quote menarik saat Hana dan Odi terpaksa mencuri apel karena kelaparan. Quote ini diambil tak lain dari si pemilik gerobak apel yang apel-apelnya dicuri Hana dan Odi. Tadinya, Hana dan Odi hanya berniat satu apel. Karena lapar, Odi menjatuhkan apel-apel di gerobak lalu memungutnya dan memakannya.

“Kasihan sekali, Kalian. Mau jadi apa setelah besar nanti kalau masih kecil saja kalian jadi pencuri?”

Nah, siapa pun yang membacanya akan tertohok, terutama yang sering diam-diam mencuri dalam bentuk apa pun. Catat: mencuri dalam bentuk apa pun.

Karena mencuri apel itu, Hana dan Odi mendapat hukuman. Di situ, ia berkenalan dengan Seo. Seo ternyata bekerja sebagai penjual informasi. Seo mendapatkan upah dari orang yang mendapatkan informasi apa pun darinya.

Tak ada pilihan lain bagi Hana dan Odi untuk menginap di rumah Seo. Rumah yang lebih mirip gerobak itu menjadi tempat tinggal tetap Seo dan tempat tinggal sementara Hana dan Odi.

Ada satu quote menarik dari Seo. Kalimat ini diucapkan Seo saat menjawab pertanyaan Hana dan Odi mengapa ia mau bekerja sebagai penjual informasi. Pemikirannya tergolong dewasa jika dibandingkan dengan usianya.

“Di dunia ini setiap orang memiliki dua sisi, yaitu kanan dan kiri. Jangan terpaku hanya pada satu sisi saja, karena sisi yang berlawanan tidak bisa disembunyikan.”

Saat malam tiba dan ketiganya hendak tidur di dalam ‘rumah’ Seo yang sempit, ketiganya baru menyadari bahwa lilin biru milik Odi berpendar di dalam gelap.

Ternyata, Seo yang terlilit hutang menjual Hana dan Odi untuk melunasi hutang-hutangnya pada George.

Selanjutnya, Hana dan Odi harus berjuang melepaskan diri dari George sekligus mencari jawaban atas siapa sebenarnya Odi dan apa hubungannya dengan lilin biru ‘LOCIC’ itu.

Sedih, gembira, semangat, dan keberanian terjalin apik dalam untaiakn kata dan kalimat Nurul Pertiwi. Setelah melewati dua antiklimaks cerita yang semula dianggap klimaks, akhirnya benar-benar tidak terduga.

Happy reading!
s^_^p