The Lost Simbok
Petualangan Orang Ilang yang Konyolnya Bukan Main-Main

Pengarang: Baim Lenon dan Kawan-Kawan
Format: 13 x 20 cm
ISBN: 978-602-8672-15-3
Jumlah halaman: 192
Harga: Rp 7000,-
Kode buku XT-15
Terbit: 14 Juni 2010
Kategori: novel humor

Endorsement

“Membaca buku ini, saya tidak takut ilang dan nyasar lagi….”
Trisno Suadji, tukang ojek spesialis nyasar

“Baru kali ini ada novel yang nekat pakai pemeran utama simbok-simbok. Tingkah Simbok betul-betul katrok dan celetukannya asli nabok!!!”
Tria Ayu K―Penulis Mereka Bilang Saya Monyong, Tragedi Happy Salmah, dan Mommy Katrok bin Ndeso

“Cerita-cerita dalam buku ini begitu segar, lucu, sekaligus menggemaskan. Tiap cerita disuguhkan dengan blak-blakan dan sulit diduga ending-nya. Dengan membaca buku ini, saya jamin, Anda yang sering sedih dan murung bakal ceria dan tertawa saat itu juga!” Aguk Irawan MN―Penulis Haji Backpacker

“Baca buku ini bikin gue tegang, terharu, lapar, dan berkunang-kunang saking serunya. Asyik…asyik…sukses buat Baim ya semoga lulus UAN… ha … ha … ha ….” Norvan Pecandupagi―Penulis komik Pamali

“Apa jadinya kalau orang desa seperti Simbok menjelajahi ibu kota? Hasilnya kacau balau! Dengan segala kepolosan, kebingungan, sekaligus keperkasaannya, Simbok menerjang semua yang dihadapinya. Hasilnya dia kesasar ke mana-mana. Aduuuuh … coba ada lima orang aja kayak Simbok, rimba Jakarta entah akan seperti apa jadinya … hi … hi … hi ….”
Iwok Abqary―Penulis buku Gokil Dad, Gokil School Musical, dan buku gokil lainnya

“Petualangan Simbok, dibawca sambil jongkok sampe bongkok, nggak boleh kapok.”
Maesaroh GK, bukan novelis peraih EKAPI


REVIEW

Ini adalah buku parodi Secret The Lost Symbol karya Dan Brown yang diterbitkan oleh Penerbit Edelweiss. Penulisnya keroyokan, Baim Lenon dan Kawan-Kawan.

Buku parodi yang ditulis hampir tanpa kebakuan EYD ini berkisah tentang seorang wanita tua eks TKW Saudi Arabia bernama Rubiyem.

Dulu, simbok Rubiyem pernah ke Jakarta diantar Biko, anaknya. Tapi, karena sudah kepalang rindu, simbok nekat ke Jakarta sendirian naik kereta ekonomi dari Stasiun Kroya untuk bertemu Biko.

Walaupun sudah pernah tinggal di luar negeri, simbok Rubiyem tidak meninggalkan identitas dirinya sebagai wanita jawa. Saat datang ke Jakarta, ia mengenakan baju lurik dan kain jarik. Rambutnya disanggul. Logat jawanya kental. Kosa katanya pun campur-campur; Indonesia dan Jawa.

Sampai di Jakarta, tepatnya di Stasiun Senen, Simbok Rubiyem mulai celingukan. Bingung arah. Bingung mau naik apa. Tapi, Simbok Rubiyem enggak hilang akal. Dengan berani, simbok bertanya sana-sini ke arah mana dan naik apa untuk sampai di kontrakan anaknya, Biko, di kawasan Depok.

Di kontrakannya, Biko menunggu dengan cemas. Sudah berjam-jam menunggu, simboknya tidak kunjung sampai.😐

Setelah akhirnya sampai di kontrakan Biko, cerita berlanjut dengan kerepotan Biko akibat ulah simbok Rubiyem. Simbok Rubiyem yang bosan ditinggal sendiri di kontrakan Biko, tak sabar menunggu Biko pulang kerja. Simbok Rubiyem nekat jalan-jalan di kawasan Depok. Sialnya, Simbok Rubiyem malah nyasar dan ditangkap oleh ompol (baca: om polisi).

Orang tua memang bikin repot. Akan lebih repot kalau orang tua menghilang. Walaupun ditulis dengan bahasa gaul sarat komedi, pesan moralnya tetap kental. Hal ini terlihat dengan penggambaran sikap Biko yang cemas saat menunggu simbok. Tidak cuma cemas, tapi Biko juga was-was dan kelimpungan mencari simbok saat menghilang.

Suatu saat nanti, kita akan menjadi tua, sama seperti orang-orang tua kita. Saat orangtua kita menjadi tua dan merepotkan, ingatlah bagaimana orangtua kita merawat kita dulu.

Happy reading!

susanti priyandari