Pengarang : Billy Briliant
Format : 14,5 x 21 cm
ISBN : 978-602-8672-35-1
Jumlah halaman : 119
Harga : Rp 22.000,-
Soft cover
Terbit : November 2011
Kode buku : XP-04

Ini adalah buku KCPK ketiga yang diterbitkan oleh Penerbit Edelweiss. Walaupun begitu, ini adalah buku pertama Billy Briliant, satu-satunya penulis anak-anak laki-laki di Penerbit Edelweiss. Dan, setelah buku ini diterbitkan, Billy Briliant jadi semakin semangat menulis dan menelurkan karya-karya terbaru.

The Power of Crystal bercerita tentang tiga sahabat yang bertualang di negeri crystal. Mereka adalah Jacky, Angel, dan Kesha. Ketiga sahabat ini seumuran dan sekolah di sekolah yang sama. Mereka juga sekelas.

Guru Jacky meminta Jacky untuk mengambil penggaris di gudang sekolah. Gudang itu gelap dan pengap. Hampir tidak ada orang yang masuk ke dalamnya kalau tidak kepefet atau terpaksa. Jacky yang saat itu ragu-ragu, akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam gudang.

Tanpa sengaja, Jacky menginjak sebuah telepon kuno. Telepon kuno itu berdebu. Ukurannya kecil sehingga muat di saku celananya. Setelah meminta izin kepada penjaga sekolah, Jacky meminjam telepon kuno itu dan memasukkannya ke saku celana.

Sepulang sekolah, saat berkumpul di rumah Angel, kejadian aneh pertama terjadi. Jacky yang kebetulan masih membawa telepon kuno itu di dalam tasnya, melepas sisa kabel di telepon kuno itu. Tak lama kemudian, telepon kuno usang berdebu dan tanpa kabel itu berdering seolah ada penelepon. Karena penasaran, Jacky, dikelilingi kedua temannya, mengangkat gagang telepon itu.

Tiba-tiba… syuuuut…. Jacky, Angel, dan Kesha tersedot masuk ke dalam gagang telepon. dan, HAP, mereka mendarat di sebuah negeri aneh yang belum pernah mereka tahu sebelumnya.

Saat mereka sedang berusaha mencari tahu mereka ada di mana, mereka melihat kurcaci sedang berkebun. Setelah perkenalan singkat, paman kurcaci mempersilakan ketiga sahabat untuk masuk dan duduk di ruang tamu.

Hmmm…. semua benda yang dilihat di ruang tamu itu terbuat dari kristal. Anehnya, Jacky merasa bahwa semua yang dialaminya saat itu persis seperti mimpinya; kurcaci, rumahnya, benda-benda kristal.

Dan petualangan mereka pun dimulai setelah itu ….

Menurut Paman Hilliam, mereka bertiga terkena sihir dari penyihir jahat Marelina. Mereka sekarang berada di negeri kristal. Dan, untuk kembali ke rumah, mereka harus menemukan kristal ajaib Ratu Caroline yang hilang. Selain itu, mereka harus membebaskan Ratu Caroline yang sedang ditawan dan berada di bawah pengaruh buruk sihir jahat Marelina. Karena tugas mereka tidak mudah, Paman Hilliam merasa perlu untuk membekali ketiga sahabat itu dengan mantra sihir dan tongkat ajaib.

Petunjuk pertama, mencari kristal ajaib. Untuk mendapatkannya tidak mudah. Mereka harus menemukan gua kristal terlebih dahulu. Karena menurut Paman Hilliam, kristal ajaib itu ada di dalam gua kristal.

Untuk menemukan gua kristal itu ternyata tidak mudah. Karena kecerobohan dan kekonyolan mereka sendiri, mereka harus melawan dari serbuan semut-semut raksasa.

Ternyata, kristal ajaib memiliki kekuatan sihir yang baik dan kuat. Ketika ketiga sahabat itu berhasil menemukannya, kristal ajaib itu bertransformasi membentuk tiga bola kristal ajaib. Satu bola kristal membesar, kemudian melingkupi satu sahabat. Sejak itu, tongkat sihir dari Paman Hilliam menghilang dan kekuatan sihir ketiga sabahat bertambah. Ketiga sahabat pulang ke rumah Paman Hilliam dengan kekuatan sihir baru mereka.

Saat malam tiba, Paman Hilliam dan ketiga sahabat merayakan kemenangan dengan pesta barbekyu. Tiba-tiba monster raksasa bermata satu menyerang mereka. Monster bermata satu ternyata bukan lawan yang seimbang dengan kekuatan sihir Paman Hilliam dan ketiga sahabat. Mereka terluka.

Merasa kekuatan sihir mereka masih belum bisa berbuat banyak, Paman Hilliam menambahkan kekuatan baru kepada kepada ketiga sahabat. Setelah pulih dan sembuh dari luka, ketiganya bersemangat untuk berlatih sihir. Latihan kali ini benar-benar ekstra disiplin dan berat karena mereka harus bisa menandingi kekuatan sihir penyihir jahat Marelina.

Dengan berbekal sebuah peta, kekuatan sihir, dan perlengkapan sihir ketiga sahabat itu berangkat menuju istana Marellina. Mereka harus bisa membebaskan Ratu Carolline supaya mereka bisa pulang.

Berbeda dengan cerita anak lainnya, Billy menuliskan kisahnya dengan bahasa sederhana yang mengalir lancar. Walaupun masih kurang deskriptif, novel anak bernuansa fantasi ini tidak kehilangan pesan moralnya. Meminta izin meminjam barang, tidak mudah putus asa, bersikap tulus, dan cerdik menjadi pesan yang terselip manis di dalam karya pertama Billy yang dibandrol Rp.22.000 ini.

Happy reading!
s^_^p