Pengarang : Azzah Hanifah
Format : 14,5 x 21 cm
ISBN : 978-602-8672-39-9
Jumlah halaman : 116
Harga : Rp 22.000,-
Soft cover
Terbit : November 2011
Kode buku : XN-05

Bersaudara kembar pasti asyik. Bisa ke mana-mana berdua, bisa curhat-curhatan, bisa dandan bareng, atau bisa juga main sepak bola bareng. Sayangnya, kita sering lupa kalau kembar itu tetap dua individu yang berbeda. Itu artinya, kalau kamu kembar, belum tentu kamu punya hobi yang sama dengan kembaranmu. Belum tentu juga bakat kamu sama dengan kembaranmu. Misalnya, kamu hobi baca eh ternyata kembaranmu punya hobi traveling. Atau, kamu punya bakat di musik, tapi kembaranmu enggak bisa sama sekali baca not atau menyanyi. Namun, sering kali lingkungan kita menganggap bahwa kembar itu identik: hobi sama, bakat sama, warna favorit sama, atau parahnya kembar dianggap sama-sama pintar. Percaya atau enggak, anak kembar enggak suka loh kalau dipakaikan baju yang sama dengan kembarannya.😉

Nah, ide cerita inilah yang diangkat oleh Azzah Hanifah, 12 tahun, di buku pertamanya yang berjudul Neo TriN.

Dikisahkan di dalam bukunya, ada Nae dan Nei. Mereka bersaudara kembar. Nae berbakat di bidang musik dan akademik, sementara Nei senang menulis puisi dan nilai akademiknya rata-rata.

Orang-orang di sekitar Nae dan Nei cenderung membandingkan Nei dan Nae. Mereka juga mengenal Nei karena ketenaran Nae. Nei tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia sering menuliskan semuanya di diarinya yang dinamainya DIFA TASUKA.

Nae terkenal sebagai penulis cilik, sedangkan Nei senang bermusik. Nei menulis sendiri syair lagu-lagunya. Suatu ketika, saat Nae launching buku, Nei datang dengan menyamar. Tanpa diduga, Nae memperkenalkan Nei sebagai kembarannya dan sedang menggarap album. Nei kaget bukan kepalang. Audiens yang hadir pun bertepuk riuh.

Sejak saat itu, Nei yang selalu sebal pada Nae karena selalu ‘kalah’, mengubah sikapnya. Ia menjadi lebih bersahabat.

Cerita Azzah tidak berhenti sampai di situ. Ibu Nae dan Nei sakit dan dirawat di rumah sakit. Pengobatan ibu Nae dan Nei memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk membiayai pengobatan ibu, mereka terpaksa pindah rumah.

Di situlah mereka berkenalan dengan seorang anak perempuan bernama Namira. Namira atau Mira punya suara yang merdu. Singkat cerita, Mira direkrut Nei dan Nae untuk bergabung dalam grup mereka.

Saat semuanya seolah berjalan tenang, tersingkaplah sebuah rahasia yang sangat tidak Nei duga sebelumnya. Rahasia itu tentang Nae.

Untuk anak berusia 12 tahun, kehebatan Azzah Hanifah menjalin konflik patut diacungi jempol. Ceritanya mengalir tidak membosankan.

Ada satu quote menarik. Quote ini diucapkan guru baru Nei saat baru masuk kelas Nei. Nei yang tidak suka matematika dan bahasa indonesia jadi semangat belajar kedua pelajaran itu.

“Jika kamu ingin menguasai satu pelajaran, kamu harus menyukai orang yang memberi pelajaran itu terlebih dulu ….”

Happy reading!
s^_^p