Kemelut Cinta di antara 2 Kerajaan
Sumedang Larang & Cirebon

Pengarang: E. Rakajat Asura
Format : 13 x 20,5 cm
ISBN : 978-602-8672-23-8
Jumlah halaman: 422
Harga: Rp 45.000,- –> 20.000
Soft cover
Terbit: September 2011

Sinopsis :

Minggatnya Ratu Harisbaya dari istana Cirebon ke pangkuan Prabu Geusan Ulun – Raja Sumedang Larang dan kekasih lamanya – menjadi fragmen sejarah yang tak sekedar memicu perang antar kedua kerajaan bersaudara itu tapi juga membuka celah meletupnya kembali bara dendam Pajajaran.

Pakuan Pajajaran telah sirna ing bhumi akibat diserbu pasukan gabungan Cirebon, Banten, Demak, dan Angke. Dan Sumedang Larang, resmi menjadi penerus Pajajaran dengan menerima Mahkota Binokasih dari raja terakhir, Prabu Surya Kencana. Namun bagi Sangyang Hawu Jaya Perkosa dan ketiga saudaranya–senopati paling jagoan dari Pajajaran–perang melawan Cirebon merupakan harapan bangkitnya kembali Pajajaran dalam wajah Sumedang Larang, sekaligus memuntahkan dendam pada musuh bebuyutan di Cirebon. Begitu pecah perang mereka habis-habisan membela Sumedang Larang….

Namun, setelah Jayaperkosa meninggalkan Keraton dan pasukan Sumedang Larang tak setangguh dulu, jalan damai ditempuh. Pangeran Girilaya–Raja Cirebon–bersedia menjatuhkan talak pada Harisbaya dengan catatan Prabu Geusan Ulun menebusnya dengan melepas daerah Sindang Kasih–wilayah strategis yang merupakan akses utama ke pantai Utara. Siapa sangka, cinta terlarang sang Raja berbuah petaka. Inilah akhir dari kebesaran Sumedang Larang sebagai kerajaan sebelum akhirnya hanya sekedar menjadi kadipaten dari sebuah kerajaan yang jauh di Timur : Mataram !

Endorsement:

Bila berbicara perkara Sumedang Larang, maka orang selalu teringat tentang Prabu Geusan Ulun dan Putri Harisbaya. Berbagai versi turut menghiasi peristiwa ini, namun semuanya tetap mengacu kepada percintaan dua insan yang menyeret kemelut politik dua negeri.
Aan Merdeka Permana, penulis novel Senja Jatuh di Pajajaran.

Warna lokal dan misteri cinta adalah daya tarik novel ini.
Arthur S. Nalan, seniman dan budayawan.