Pengarang: Ganu van Dort
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-8672-14-6
Jumlah halaman: vi + 398
Harga: Rp 48.000,-
Soft cover
Terbit: 16 Januari 2012
Kode buku: XT-23

Sinopsis
Bandoeng, de mooiste stad van Java, “Bandoeng kota terindah di Pulau Jawa”. Tapi tidak untuk Laura Hessel, Bandoeng bagai neraka. Kekerasan dan kepiluan selalu menguntit gadis Belanda yang setelah lulus menjadi dokter, dan memeluk Islam, mengubah namanya, menjadi Fatimah. Ia menikah dengan Djadja Soeriadiredja, pria pribumi, wartawan surat kabar De Vrije Pers, yang akhirnya dibuang ke Suriname, karena kritikannya yang pedas pada Gubernemen Hindia Belanda. “Oh suamiku. Rupanya kita tak habis-habisnya diintai bahaya maut,” ujar Fatimah, sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya. Tangannya masih memegang pistol.

Sebuah Douglas DC-3, kembali membawa Dokter Fatimah menuju Nederland. Dari jendela pesawat ia memandang pilu ke bawah. Samar-samar tampak Parijs van Java, dipayungi awan-awan putih bergerombol. Tanpa sadar ia berucap, “Dag Bandoeng, ik herineer je altijd…”, “Selamat Tinggal Bandoeng, aku sangat mengenangmu…”

Kedamaian seolah tak pernah singgah pada Dokter Fatimah, sejak periode Hindia Belanda, zaman keganasan tentara Jepang, sampai masa peperangan merebut kemerdekaan Indonesia. Semua itu gara-gara kode formula MAPKK. Formula rahasia itu, ciptaan ayah Fatimah, Profesor Jansens Kloosmayer. Unit 731, bagian dari misi rahasia tentara Jepang dan intelijen militer dari negeri fasis lainnya, pada masa Perang Dunia II, mengincar formula itu. Dan seorang agen Belanda pun, berupaya mati-matian merebut formula itu, untuk menjualnya pada spion asing. Dan terjadilah tragedi demi tragedi ….

Endorsement:
“Sebuah epik cinta, dendam, dan perjuangan di tengah kepungan spionase Belanda dan Jepang, di kancah peperangan sebuah kota ’surga’ di Jawa.”
—Langit Kresna Hariadi, Penulis novel bestseller Gajah Mada

Betapa melalui perjalanan para tokoh fiksi di novel ini, suasana Bandung dan tatar Priangan pada awal abad ke-20 telah terekam dengan baik. Bagi yang pernah hidup di zaman itu, mungkin inilah nostalgia tentang Bandung dan seputarnya. Bagi masyarakat kini yang berkunjung ke Bandung tiap akhir pekan, bisa mengenal Kota Bandung lebih menukik lewat novel ini.
—Aan Merdeka Permana, penulis novel sejarah, pemimpin redaksi majalah Sunda Ujung Galuh