Membaca novel yang berbalut sejarah jarang saya lakukan karena beberapa kali melakukannya membuat saya kecewa berat. Sejarah-sejarah yang muncul seakan-akan hanya tempelan. Para tokohnya lebih sibuk dengan diri sendiri dan tidak sesuai dengan pergulatan sejarah di sekitarnya. Namun, membaca fakta-fakta unik mengenai Tragedi Gadis Parisj van Java membuat saya tergoda untuk mencicipi novel sejarah lagi. Setelah membaca novel sejarah yang hampir semuanya membahas sisi drama percintaan yang kental, saya jadi penasaran apa yang saya temukan dari novel keluaran Penerbit Edelweiss ini, ya?🙂

Detail Buku:

Pengarang: Ganu van Dort

Format: 13 x 20,5 cm

ISBN: 978-602-8672-14-6

Harga Rp48.000,-

Terbit: 16 Januari 2012

Sinopsis Belakang

Bandoeng, de mooiste stad van Java, “Bandoeng kota terindah di Pulau Jawa”. Tapi tidak untuk Laura Hessel, Bandoeng bagai neraka. Kekerasan dan kepiluan selalu menguntit gadis Belanda yang setelah lulus menjadi dokter, dan memeluk Islam, mengubah namanya menjadi Fatimah. Ia menikah dengan Djadja Soeriadiredja, pria pribumi, wartawan surat kabar De Vrije Pers, yang akhirnya dibuang ke Suriname karena kritikannya yang pedas pada Gubernemen Hindia Belanda. “Oh suamiku. Rupanya kita tak habis-habisnya diintai bahaya maut,” ujar Fatimah, sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya. Tangannya masih memegang pistol.

Sebuah Douglas DC-3, kembali membawa Dokter Fatimah menuju Nederland. Dari jendela pesawat ia memandang pilu ke bawah. Samar-samar tampak Parijs van Java, dipayungi awan-awan putih bergerombol. Tanpa sadar ia berucap, “Dag Bandoeng, ik herineer je altijd… Selamat Tinggal Bandoeng, aku sangat mengenangmu…”

Kedamaian seolah tak pernah singgah pada Dokter Fatimah, sejak periode Hindia Belanda, zaman keganasan tentara Jepang, sampai masa peperangan merebut kemerdekaan Indonesia. Semua itu gara-gara kode formula MAPKK. Formula rahasia itu, ciptaan ayah Fatimah, Profesor Jansens Kloosmayer. Unit 731, bagian dari misi rahasia tentara Jepang dan intelijen militer dari negeri fasis lainnya, pada masa Perang Dunia II, mengincar formula itu. Dan seorang agen Belanda pun, berupaya mati-matian merebut formula itu, untuk menjualnya pada spion asing. Dan terjadilah tragedi demi tragedi ….

Sejarah Indonesia di Kota Bandoeng

Cerita dibuka di Vogel Pool, sebuah bar di Bragaweg (sekarang Jalan Braga), Bandoeng, Oktober 1937. Dengan deskripsi keadaan sekitar yang cukup mendetail, termasuk bahwa Vogel Pool terletak di belakang Firma E. W. Van Loo atau penyanyi yang cukup terkenal saat itu, Catarina van der Meijden, kita dibawa mengikuti percakapan seorang Belanda misterius yang meminta seorang pribumi untuk membunuh Profesor Jansens beserta istrinya, kemudian membawa sang putri semata wayang mereka, Laura Hessels, ke hadapan orang Belanda tersebut. Wow.

Kehidupan Laura Hessels yang tenang berubah total saat kedua orangtua kesayangannya menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh Madhapi secara brutal. Laura terpaksa tinggal di rumah keluarga pamannya dan dibayang-bayangi ketakutan akan dihabisi Madhapi setiap saat. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Laura mengejar cita-citanya menjadi dokter. Terutama karena cinta kasih sang bibi dan sepupu-sepupunya terus melingkupi Laura sehingga gadis itu dapat menatap ke depan.

Sejak cinta pertamanya dengan Jantje Ijzerman kandas dan meninggalkan trauma yang mendalam, Laura mulai menjalin hubungan dengan Djaja Soeriadiredja. Awalnya Djaja yang jago pencak ini hanya diminta menjadi pengawal yang menjaga Laura dari intaian Madhapi, tapi seiring berjalannya waktu, tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Terutama setelah Laura nyaris tenggelam di Sungai Tjikapoendoeng.

Walau Bandoeng dianggap sebagai salah satu tempat favorit yang disukai oleh orang Belanda, segalanya berubah setelah kedatangan tentara Jepang. Djaja yang telah menikahi Laura begitu semangat mengorbarkan rasa kebangsaan rakyat Indonesia untuk melawan penjajah melalui tulisan-tulisannya yang kontroversi. Hal ini membuatnya ditangkap dan dibuang ke Suriname… Tentu saja hal ini membuat Laura yang telah menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Fatimah sedih. Ditambah lagi, kapal Van Imhoff yang membawa Djaja, Douwes Dekker, dan orang-orang yang dianggap membahayakan Belanda ternyata ditembak sampai tenggelam oleh tentara Jepang! Djaja dinyatakan meninggal…

Lika-liku perjalanan Laura tidak berhenti di sini. Dia harus terus berjuang bertahan hidup di bawah tekanan tentara Jepang yang kejam. Juga berbagai tragedi yang seakan menjadi suratan takdir Laura. Apakah Laura harus menutup kisah hidupnya di Bandoeng dengan akhir yang memilukan? Atau ada secercah harap tertinggal di sana?

In My Opinion

Membaca novel ini membawa saya kembali ke perjalanan sejarah Indonesia. Ganu van Dort berhasil meramu fakta-fakta dengan fiksi menjadi sebuah cerita yang saling berpadu. Seting sejarah dalam novel ini bukanlah tempelan, melainkan para tokoh-tokoh yang muncul memang terbawa arus sejarah tanpa bisa melawannya.

Mengikuti kisah hidup Laura menyusuri kota Bandoeng, saya seakan terbawa juga untuk merunut sejarah Indonesia yang mungkin tidak dapat saya temui di buku pelajaran sejarah mana pun. Hampir semua tempat yang muncul adalah nyata atau pernah ada. Saya sedikit banyak bisa membayangkan bagaimana situasi kota Bandoen tempo dulu dan dapat mengerti bagaimana para Welanda begitu menyukai tinggal di sana.

Saya baru menyadari kalau sebagian orang-orang Belanda yang kita cap sebagai penjajah itu ternyata begitu mencintai Indonesia. Mereka suka tinggal di sini, juga bergaul dengan rakyat pribumi. Cinta mereka terhadap Indonesia sama seperti cinta mereka terhadap Belanda. Mereka juga ikut menangis saat Indonesia jatuh ke tangan pemerintah Jepang. Mereka juga ikut merasakan bagaimana kejamnya tentara Jepang yang memasukkan para tawanan perang ke kamp-kamp.

Kehidupan manusia tidak selalu mulus atau berakhir bahagia. Begitu juga yang terjadi pada Laura. Namun, bukan berarti hidupnya hanya dipenuhi oleh tragedi. Laura menunjukkan ketegarannya melewati cobaan demi cobaan. Ada kalanya dia berputus asa dan nyaris menyerah, namun ia kembali bangkit dan memilih untuk tidak berhenti berjuang.

Sedikit Masukan

Tidak ada gading yang tak retak. Istilah ini cocok untuk menunjukkan bahwa manusia tidak pernah lepas dari khilaf. Yah, mungkin saya sedikit berlebihan menggunakan kata-kata ini ^^ Overall, saya menemukan beberapa kali salah ketik yang cukup mengganggu walaupun mungkin tidak terlalu fatal. Kesalahan ketik ini berlaku pada penggunaan huruf kapital, tanda baca, atau penggunaan istilah yang tidak konsisten.

Saya juga merasa bahwa misteri yang melingkupi Laura, pelaku misterius yang begitu mengincarnya, kurang digarap. Cerita akan jauh lebih solid apabila sepanjang buku Laura tidak tinggal diam, tapi juga menyelidiki balik siapakah orang yang menginginkan kematian orangtuanya. Juga misteri di balik MAPKK. Saya juga bertanya-tanya, apakah MAPKK ini masih relevan untuk didapatkan si pelaku setelah Indonesia merdeka? Dengan asumsi perang sudah selesai.

Beberapa bagian sejarah juga bisa dipangkas, agar tidak terkesan informasi tersebut dikopi dan di-paste begitu saja ke dalam cerita. Bagian ini membuat cerita menjadi membosankan dan andaikan saya skip juga tidak akan mengganggu cerita secara keseluruhan.

Saya sangat berterima kasih kepada Penerbit Edelweiss yang telah menerbitkan novel sejarah yang menarik ini. Saya belajar banyak hal dari novel ini dan saya senang sekali mengetahui bahwa Tragedi Gadis Parisj van Java bukan sekedar cerita roman picisan.

Seperti juga yang dirasakan Laura, sekeping hati saya tertinggal di kota Bandoeng ….

Naomi Leon (@naomi_leon)

pemenang Lomba Resensi buku Tragedi Gadis Parijs van Java

1-31 Agustus 2012